Konkep Hari Guru

Sokong Germas, Bupati Konkep Beber Terobosan

Misi Utama Mendorong Peningkatan Akses dan Kualitas Layanan Kesehatan

0 140

Langara, MCN – Dalam empat tahun terakhir Kabupaten Konawe Kepulauan sudah menelurkan banyak terobosan di sektor kesehatan. Misi utamanya mendorong peningkatan akses dan kualitas layanan kesehatan.

Kala masih berstatus Daerah Otonomi Baru (DOB), Konkep dipaksa berpacu mengejar ketertinggalan di berbagai sektor, termasuk sektor kesehatan.

Hal tersebut diungkap Bupati Konkep Amrullah saat gelar acara Pencanangan Implementasi Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) serta Deklarasi Pencegahan dan Penanggulangan Stunting Kabupaten Konkep, Sabtu (30/11).

Acara tersebut berlangsung di Mosolo, Kecamatan Wawonii Tenggara dihadiri unsur OPD, TP PKK, Kepala desa, kepala sekolah dan lainnya.

“Waktu masih DOB kami menyadari masih banyak ketertinggalan maupun keterbelakangan di bidang kesehatan. Banyak tantangan serius,” katanya.

Tantangan tersebut, kata dia, kondisi fisik tujuh puskemas rusak berat dan seluruhnya tidak memenuhi standar syarat pelayanan kesehatan. Lalu belum ada rumah sakit sebagai sarana layanan rujukan.

“Semua desa belum punya Pos Kesehatan Desa (Poskedes), kegiatan posyandu masih memanfaatkan rumah warga dan balai desa,” ujarnya.

Di bidang sumber daya kesehatan, Konkep kala itu hanya memiliki 40 orang tenaga medis PNS minus dokter. Akibatnya, rata-rata kunjungan warga ke puskesmas baru mencapai 30 persen.

Berikut, cakupan pertolongan persalinan baru sekitar 50 persen. Ditambah lagi jumlah penduduk yang memperoleh jaminan kesehatan masih berkisar 53 persen. Belum lagi prilaku hidup sehat dan bersih belum membudaya di tengah masyarakat.

“Dampak negatif dari semua itu adalah tingginya angka kematian ibu melahirkan, banyak bayi meninggal karena terserang penyakit menular seperti TBC, diare dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA),” bebernya.

Menurut Amrullah, tahun 2014-2016 Kabupaten Konkep tercatat tertinggi kasus stunting atau kurang gizi di kalangan anak-anak di wilayah Sultra.

Dari identifikasi berbagai masalah pokok, lanjut Politisi Partai Demokrat itu, Pemerintah setempat menempuh beberapa langkah terobosan selaras tiga pilar program Indonesia Sehat.

“Pilar pertama paradigma sehat adalah mendorong budaya prilaku hidup bersih dan sehat. Itu penting karena biaya pengobatan sebesar apapun kadang tak cukup. Orang sembuh butuh waktu lama dan biaya besar,” jelasnya.

Sedangkan pilar kedua, tuturnya, adalah penguatan layanan kesehatan di mana Konkep dalam kurun tahun 2016-2019 sudah melakukan banyak upaya terobosan dalam pengentasan keterbelakangan sektor kesehatan.

Di antaranya, rehabilitasi dan perluasan tujuh gedung puskemas, membangun tiga gedung baru puskesmas di Langara, Lansilowo dan Lampeapi.

“Tahun depan pemerintah akan membangun satu gedung puskesmas baru yang setara memadainya dengan Puskesmas Roko-roko di Desa Waworope. Target menuntaskan sembilan puskesmas hingga akhir periode kepemimpinan kami nanti,” tegasnya.

Terkait kualitas layanan kesehatan, Amrullah berharap tahun 2021 nanti tujuh puskesmas sudah harus terakreditasi dari sisi layanan kesehatan. Kini baru enam puskemas telah terakreditasi.

“Sisa Puskesmas Lansilowo belum, sementara menunggu jadwal penilaian oleh tim Surveyor Komisi Akreditasi FKTP Nasional. Dari sisi persiapan pra penilaian, Insyah Allah kami optimis Puskemas Lansiowo bisa diakreditasi,” tuturnya.

Terakhir pendekatan pilar ketiga, tambahnya, dari sisi jaminan kesehatan nasional, Kabupaten Konkep mendapatkan penghargaan sebagai kabupaten UHC (Universal Health Coverage) dari Presiden RI tahun 2017 . (*)

Reporter : Kardin
Editor : Juhartawan

Facebook Comments

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.